Thursday, March 24, 2005
Waktu dalam kehidupan muslim

Artikel ini didapat dari Ustadz Joban, posting milis Assyifa, Seattle.



Kehidupan kaum muslimin kurun pertama memberikan perhatian yang amat besar terhadap waktu melebihi perhatian kepada benda dan kekayaan mereka. Juga apa yang telah mereka wariskan dari ilmu yang bermanfaat, perbuatan baik, perjuangan yang benar, kemenangan yang nyata, serta kebudayaan yang berakar dan bercabang.

Disisi lain, kehidupan kaum muslimin kini menunjukkan penyia-nyiaan terhadap waktu dan umur secara amat berlebihan-lebihan. Mereka tidak berbuat untuk dunianya sebagaimana keadaan para ahli dunia, tidak pula untuk akhiratnya sebagaimana keadaan ahli akhirat. Ironisnya mereka malah menghancurkan pada keduanya dan mengharamkan pula kebaikan pada keduanya. Seandainya mereka mengerti, niscaya mereka akan berbuat untuk dunianya seakan-akan mereka hidup selamanya dan akan berbuat untuk akhiratnya seolah-olah mereka mati besok.

Perhatian Al-Qur'an dan Sunnah terhadap waktu
Al-Qur'an dan Sunnah memberikan perhatian terhadap waktu dalam berbagai versi, dengan penggambaran yang beraneka ragam. Dalam beberapa permulaan surat Makiyyah, Allah bersumpah dengan waktu dan yang sejenisnya:
"Demi malam apabila menutupi cahaya siang dan siang apabila terang benderang" (QS 92:1-2)
"Demi fajar dan malam yang sepuluh" (QS 89:1-2)
"Demi waktu matahari sepenggalan naik dan demi malam apabila telah sunyi" (QS 93:1-2)
"Demi masa, sesunguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian" (QS 103:1-2)
Menurut pendapat ahli tafsir, apabila Allah bersumpah dengan suatu ciptaan-Nya, maka itu menjadikannya pandangan manusia tertuju kepadanya dan mengingatkan mereka akan manfaatnya yang besar dan pengaruhnya yang abadi. Sunnah Nabi juga menekankan nilai waktu dan menetapkan tanggung jawab manusia terhadapnya di hadapan Allah pada hari kiamat, hingga 2 diantara 4 pertanyaan terpenting yang akan ditanyakan di hari perhitungan nanti adalah mengenai waktu.

Dari Mu'adz bin Jabal, bersabda Rasulullah saw: Tidak akan tergelincir kedua kaki seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya 4 perkara usianya untuk apa dihabiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya darimana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, serta ilmunya dan apa yang ia perbuat dengannya. (HR Tirmizi)

Karakteristik Waktu
Waktu itu memiliki ciri-ciri tertentu yang harus kita ketahui dengan seksama agar kita dapat memanfaatkannya diantaranya:

1. Cepat berlalunya
Waktunya itu berlalu laksana awan, ia berlari bagaikan angin baik diwaktu senang maupun susah, diwaktu sedih maupun gembira. Meskipun seseorang berumur panjang dalam kehidupan ini, sebenarnya pendek belaka selama mati merupakan akhir dari kehidupan.
"Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari" (QS 79:46)

2. Waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali dan tidak dapat diganti
Setiap hari berlalu, setiap jam lewat atau setiap kesempatan jalan, tidak mungkin akan kembali lagi atau dapat digantikan. Hasan Basri berkata: "Tidaklah fajar hari ini terbit, kecuali ia akan memangil Hai anak Adam, aku adalah ciptaan yang baru dan aku akan menjadi saksi atas pekerjaanmu, maka mintailah bekal kepadaku, karena aku tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat apabila aku telah berlalu."

3. Waktu adalah yang termahal yang dimiliki manusia
Dikarenakan waktu itu berlalu dengan cepat dan tidak akan kembali lagi bahkan tidak ada gantinya, maka waktu adalah harta yang paling mahal dan berharga yang dimiliki oleh manusia. "Waktu adalah kehidupan", kata Hassan Al-Banna. Bukankah kehidupan seseorang itu adalah waktu yang dipergunakannya dari semenjak ia hidup sampai meniggal. Hasan Basri kembali menasehatkan: "Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu
hanyalah kumpulan dari hari-hari setiap kali hari berlalu akan berlalu pula bagian umurmu."

Kewajiban Muslim terhadap waktu
Karena sedemikian pentingnya waktu, maka bagi seorang muslim ada kewajiban-kewajiban, terhadap waktu yang harus ia sadari. Mereka tidak hanya sekedar mesti tahu dan mengerti, tapi harus meyakini, lalu mengerjakan dengan sungguh-sungguh.

1. Menjaga manfaat waktu
Kewajiban yang utama adalah menjaganya sebagaimana ia menjaga hartanya, bahkan lebih dari itu. Kemudian dia harus mengambil manfaat dari waktunya untuk kepentingan diri dan dunianya serta untuk kebaikan dan kebahagian umatnya. Umar bin Abdul Aziz mengatakan: "Sesungguhnya siang itu berbuat atas dirimu maka beramalah pada keduanya."
Diantara tanda-tanda kebencian Allah adalah menyia-nyiakan waktu, maka para ulama mengatakan: "Waktu adalah pedang, bila kamu tidak memakainya dengan baik dan benar ia akan memotong dirimu". Seorang ulama lain berkata: "Barangsiapa yang hari ini seperti hari kemarin, ia adalah orang tertipu dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin ia adalah orang yang tercela."
Mereka, para ulama salaf, berusaha untuk menjaga agar hari-hari atau waktunya tidak berlalu walau sedikitpun kecuali dapat mendatangkan ilmu yang bermanfaat atau perbuatan yang baik, bahkan mereka bermujahadah untuk diri mereka sendiri dan orang lain, sehingga tidak berlalu umur mereka melainkan ada manfaat daripadanya.

2. Tidak menyia-nyiakan waktu
Betapa besarnya perhatian para ulama salaf, terhadap waktu dan nilainya yang tinggi, namun yang melukakan hati dan menyayat jantung manakala kita menyaksikan orang-orang Islam saat ini banyak yang yang menyia-nyiakan waktu dengan sangat berlebihan. Sepanjang siang dan malam duduk dihadapkan meja catur atau permainan kartu. Halal dan
haram tidak lagi mereka perhatikan.

3. Mengisi kekosongan
Kekosongan atau waktu luang adalah saat sunyi dari kesibukan dunia yang menghambat seseorang untuk melaksanakn usuran akhirnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw pernah bersabda: "Pergunakanlah waktu luangmu sebelumnya sebelum waktu kerjamu." Orang-orang yang salih mengatakan bahwa waktu yang sepi dari kesibukan-kesibukan adalah nikmat yang besar. Para ulama salaf sangat membenci orang-orang yang menganggur, tidak mau bekerja untuk kehidupannya sendiri. Seorang ulama berpendapat kekosongan bagi laki-laki adalah kelalaian, sedang bagi wanita adalah timbulnya nafsu syahwat. Bukankah cinta istri raja Mesir, Julaiha, pada Nabi Yusuf akibat kesepian yang menyelimuti?
Bahaya waktu luang bagi para pemuda yang hidup dalam masa pubertas, sangatlah besar, apalagi ditambah kekayaan yang memungkinkannya untuk mendapatkan segala apa yang ia kehendaki.

4. Berlomba-lomba dalam kebaikan
Orang yang mengerti akan nilai dan pentingnya waktu, selalu mengerjakan kebaikan dan tak hendak menunda kewajibannya dengan alasan malas atau berat hati. Seorang penyair berkata: "Takkan kutunda perkerjaan hari ini hingga esok karena malas, sesunguhnya hari esok adalah bagi orang-orang yang malas". Allah sendiri memberikan anjuran
untuk berlomba-lomba dalam kebaikan:
"Dan untuk yang demikian itu hendaknya mereka berlomba-lomba" (QS 83:26)

5. Belajar dari perjalanan hari demi hari
Bagi seorang mukmin mengambil pelajaran dari perjalanan siang dan malam merupakan suatu keharusan. Ada banyak hikmah dan ibroh yang bisa dipetik dari perjalanan sejarah sebagai bekal untuk melangkah ke masa depan dan bekerja di masa kini.
"Sesungguhnya dalam menciptakan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal" (QS 3:190)

6. Mengatur waktu
Seorang mukmin harus dapat mengatur dan membagi waktunya untuk kewajiban dan pekerjaannya yang beragam. Sehingga tidak terjadi saling tindih antara yang penting dengan yang tidak penting, antara yang telah tertentu waktunya dengan yang belum ditentukan. Orang-orang yang memiliki etos kerja yang tinggi dan selalu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sangat membutuhkan pembagian waktu kerja. Bahkan karena sangat banyaknya beban yag harus mereka selesaikan terkadang mereka merasakan bahwa kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia.
Di dalam membagi waktu kerja, sebaliknya harus ada waktu yang terluang meskipun sedikit untuk sekadar beristirahat melepaskan lelah, karena hati atau jiwa juga merasakan lelah dan bosan seperti tubuh.
Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata: "Berilah hatimu waktu sekadar untuk istirahat, karena hati itu kalau dipaksa menjadi buta". Dalam hadits Rasulullah saw: "Sesungguhnya agama itu mudah, agama sekali-kali tidak akan membebani seseorang kecuali ia mampu mengerjakannya, maka kerjakanlah dengan baik sedapat kamu kerjakan dan beribadahlah sekadarnya yang dapat mendekatkanmu kepada Allah serta bergembiralah
dengan pahala atas pekerjaan yang berkelanjutan meskipun sedikit" (HR Bukhari dan Nasai).

7. Bagi tiap-tiap waktu ada aktifitas tertentu
Seorang yang beriman harus mengerti bahwa waktu itu menuntut aktifitas hati, lisan dan perbuatan untuk kepentingan jiwa dan raga. Khalifah Abu Bakar Shid diq berwasiat kepada Umar bin Khattab: "Ketahuilah! Bagi Allah perbuatan di siang hari. Dia tidak akan menerimanya di malam hari. Dan bagi-Nya pebuatan di malam hari, Dia tidak akan menerimanya siang hari".
Yang terpenting bukanlah seseorang itu dapat berbuat apapun pada saat kapanpun, akan tetapi ia dapat melaksanakan sesuatu pada waktu yang telah ditetapkan. Oleh Karena itu kewajiban-kewajiban manusia kepada Allah harus dilaksanakan tepat pada waktunya, tidak boleh didahululan atau diakhirkan.
Beberapa cendikiawan berkata, ada 4 waktu bagi seorang hamba Allah, yaitu kenikmatan, kesengsaraan, ketaatan dan kemaksiatan pada masing-masing ada kewajiban yang harus dilaksanakan untuk Allah, tentunya dengan cara yang berbeda-beda.

8. Memilih waktu-waktu yang istimewa
Ada saat-saat yang diistimewakan oleh Allah dan telah jelas kelebihannya dari yang lain, sebagaimana Rasulullah menginformasikan: "Sesunguhnya pada waktumu ada pemberian-pemberian dari Rabb-mu, maka berusahalah untuk mendapatkannya." (HR Tabrani).
Allah telah melebihkan waktu akhir malam sebelum terbit fajar atas waktu lainnya, karena pada waktu itu Dia turun kepada hamba-hamba-Nya dengan segala kebesaran-Nya. "Sedekat-dekat Allah dengan hamba-Nya adalah diwaktu akhir malam, maka apabila kamu dapat menjadi orang yang selalu berzikir kepada-Nya saat tersebutlah maka kerjakanlah." (HR Tabrani).

Wallahu'alam bisshawab

Disadur dari Majalah Sabili, 1991


Photobucket - Video and Image Hosting



 
   
 
Pengajian Assyifa December 19, 2001
Daisypath Ticker