Sunday, April 30, 2006
Lecture materials 04/2006 (Indonesian & English)


Tujuan dan Kandungan Surah Al-Baqarah

Surat Al-Baqarah adalah surat yang pertama turun di Madinah setelah Rasulullah Hijrah. Madinah adalah kota pertama dimana Rasulullah membina ummat dan mendirikan Negara Islam. Surah Al-Baqarah adalaah surah yang paling panjang dalam Al-Qur’an, 286 ayat.

Keutamaan Surat Al-Baqarah
• Nabi SAW bersabda: “Jangan menjadikan rumah-rumahmu sekalian seperti kuburan, karena rumah yang dibacakan didalamnya surat Al-Baqarah tidak akan dimasuki oleh Syaitan”
• “Sesungguhanya segala sesuatu itu ada pucuknya, dan pucuknya Al-Qur’an adalah surat Al-Baqarah, dan barangsiapa yang membacanya dirumahnya dalam satu malam, maka tidak akan dimasuki oleh syaitan selama tiga hari.”
• “Bacalah Al-Qur’an karena ia akan menjadi penolong (memberi syaf’at) kepada yang membacanya pada hari kiamat. Bacalah dua bunga (Al-Baqarah dan Al-Imarn) karena keduanya akan datang hari kiamat seperti dua awan atau seperti dua kelompok burung yang akan menjadi saksi bagi pembacanya”
• “Pada hari kiamat nanti Al-Qur’an dan pemiliknya (pembacanya) yang mengamalkannya akan dihadapkan, dan Al-Baqarah serat Al-Imran akan mengetuainya.”

Tujuan Utama Surat Al-Baqarah
Tujuan utama dari surah Al-Baqarah adalah tentang Kekhalifahan manusia diatas bumi. Maksudnya bahwa Allah telah memberikan amanat dan tugas kepada manusia untuk mengelola bumi ini sesuai dengan tuntunan yang Allah berikan kepada mereka.
Didalam surat itu dijelaskan beberapa contoh dari mereka yang berhasil menjalanka tugasnya sebagai khalifah, dan mereka yang gagal.

Pertama: adalah merupakan pendahuluan yang menerangkan tentang 3 macam bentuk manusia:
a. Al-Mutaqeen (orang yang bertaqwa) (5 ayat)
b. Al-Kafireen (orang-orang kafir) (2 ayat)
c. Al-Munafiqeen (orang-orang munafiq) (13 ayat)
Kedua: adalah tentang percobaan Adam AS sebagai khalifah
Ketiga: adalah tentang kegagalan Bani Israil sebagai khalifah
Keempat: adalah tentang kesuksesan Nabi Ibrahim AS sebagai khalifah.

Adam AS Sebagai Khalifah
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (2:30)

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!". (2:31)
‘Al-Asmaa’ (Nama-nama) maksudnya juga ilmu, sains, teknologi, penemuan-penemuan dsb. Ini menunjukan bahwa seorang khalifah tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya dengan sempurna tanpa mempunyai ilmu dan teknologi. Oleh karena itu Islam bukan hanya mengajarkan ritual ibadah saja, tapi juga mengajarkan bagaimana untuk mengelola bumi dan alam ini.

Diantara Penyebab Kegagalan Khalifah adalah Dosa
Menurut ayat no 36 diantara penyebab kegagalan sebagai khalifah adalah dosa.

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan".(2:36)

“Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (2:38)

Percobaan Bani Israil sebagai Khalifah
Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (2:40)
Kata pertama dalam ayat diatas adalah ‘Ingatlah akan ni’mat-ni’mat Allah. Maksudnya bahwa agar supaya sukses menjadi khalifah pertama yang harus selalu diingat adalah ni’mat Allah SWT.

Nikmat-nikmat Allah Terhadap Bani Israil
Lalu Allah menyebutkan dianatara ni’mat-nimat yang diberikan kepada mereka, yang antara lain:
“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. (2:49)

“Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan..(2:50)

Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (2:57)

Bani Israil adalah bangsa yang matrialis
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang", karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. (2:55)

Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur“ (2:56)

Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.. (2:61)

Kenapa surat in disebut surat Al-Baqarah?
Jawabanya adalah karena kisah ‘Al-baqarah’ atau sapi ini telah memperlihatkan inti dari semua kesalahan-kesalahan Bani Israil. Jadi merupakan peringatan bagi ummat Muhammad SAW agar jangan sampai berbuat seperti mereka. Dari ayat 67 - 73
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil". (2:67)

Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". (2:68)

Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya" (2:69)

Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)." (2:70)

Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.(2:71)

Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. (2:72)

“Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayit itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti(2:73)

Apa Inti Kesalahan-kesalahan Bani Israil?
1. Kematrialistikan yang luar biasa. Mereka hanya percaya kepada yang bersifat materi.
2. Suka berdebat yang tidak ada manfaatnya
3. Tidak ta’at kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya
4. Selalu berusaha untuk mencari ‘hilah’ (mencari alasan untuk tidak melaksanakan perintah Allah SWT.

Ayat pertama yang ditujukan kepada orang-orang mu’min
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa`ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.. (2: 104)

Larangan Untuk Ikut-ikutan
Allah meperingatkan orang-orang mu’min akan bahanya mengikuti tingkah laku orang-orang Bani Israil. Diantaranya adalah dalam menggunakan istilah. Misalanya mereka suka berkata kepadaa Nabi (S) :“Ra’ina” . Dimana kata-kata in bisa mempunyai arti yang berbeda-beda. Bisa artinya: “gembelakanlah kami, atau bimbinglah kami”. Bisa juga artinya “Ru’iya-na” yang bararti tukang gembala kambing”. Dan bisa juga dalam arti Ra’unah, yaitu ‘yang tidak baik peranginya’. Jadi artinya: “Hai orang-orang bodoh tunggu sebentar.” Oleh karena itu hendakalah kamu pilih kata-kata (istilah) yang artinya tidak bisa diputar-putar kepada maksud buruk. Kata itu adalah ‘Unzurna’, artinya ‘pandanglah kami, tiliklah kami.’ Pandgan matapun boleh, pandangan hatipun boleh, namun kami tidak lepas dari bimbingan engkau.

Taqlid
Diantara penyakit yang menimpa ummat Islam sekarang ini adalah kesukaan untuk meniru-meniru (taglid) atau mengguanakan istilah-istilah yang datang dari orang lain, dan merasa bangga dengan istilah itu.
Ayat-ayat berikutnya adalah merupakan peringatan akan bahanya meniru-niru orang lain.

Percobaan Kekhilafahan Ibrahim (AS)
Nabi Ibrahim (AS) adalah merupakan contoh dari khalifah yang berhasil, Allah berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim". (2:124)

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud".. (2:125)

Bagian/Juz kedua dari Surat Al-Baqarah
Juz kedua dari surat in berisikan umumnya tentang:
a. perintah-perintah dan
b. larangan-larangan
Setiap perintah atau larangan umumnya diakhiri dengan kata-kata ‘Taqwa’ . Jadi seolah-olah untuk dapat melaksanakan perintah-perintah tsb, dan untuk mencegah larangan-larangan memerlkan taqwa.

Perintah pertama tentang Perubahan Qibalah dalam Shalat
Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (2:142-143)

Ujian
Perubahan qiblat ini sebetulnya adalah merupakan ujian pertama bagi seorang khalifah,dan agar supaya dia mempunyai identitas tesendiri, dan tidak ikut-ikutan atau meniru-niru. Orang-orang yang suka meniru-meniru biasanya adalah orang-orang yang lemah yang tidak mempunyai identitas.
Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (2:158)

Ayat diatas turun karena para shahabat merasa enggan atau berat untuk melakukan sa’i antara Sofa dan Marwa, karena takut termasuk meniru-niru orang kafir Quraish. Maka ayat diatas datang untuk menerangkan bahwa tidak semua yang datang dari orang lain itu buruk, seperti sa’yi. Disamping itu maskipun sa’yi itu sudah menjadi teradisi orang kafir Quraish, namun asal muasalnya adalah datang dari siti Hajar ketika mencari air untuk anaknya Ismail.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (2:177)
Ayat diatas sebetulanya merupakan kesimpulan dari semua ajaran Agama Islam: Aqidah, Shair’ah, Akhlaq. Dalam waktu yang sama ayat diatas menegaskan akan pentingnya mengambil Islam secara syamil (keseluruhan), bukan sebagian-sebagian. Atau mengambil yang disenanginya saja.

Perintah dan Larangan
Oleh karena itu ayat-ayat berikut penuh dengan perintah-perintah dan larangan-larangan, dan ajaran-ajaran pokok tentang
a. Hukum sipil dan pidana
b. Hukum waris
c. Hukum ibadah puasa dan haji

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. (178)

Dan dalam kisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (179)

Jihad / Qital
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (190)
Jadi peperangan atau menggunakan kekerasan dalam Islam hanya dibolehkan untuk membela agama atau jiwa.”

Infaq
Oleh karena jihad fisabililllah tidak mungkin tanpa ada jihad dengan harta maka turunlah ayat 195.
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik..” (195)

Stelah itu turun ayat yang berkenaan dengan hukum-hukum haji (196-202). Karena haji sebetulnya merupakan percobaan sebelum masuk kemedan jihad, karena haji sendiri juga merupkan jihad; jihad harta, jihad fisik, jihad melawan shaitan dan hawa nafsu.

Perintah Untuk Masuk Islam Secara Menyeluruh
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.. (2:208)
Diantara kesalahan dan penyebab kegagalan Bani Israil adalah mengambil ajaran-ajaran para Nabi-nabi mereka secara sebahagian saja, dan menolak sebahagian yang lain. (2:86)

Keluarga
Ayat-ayat berikutnya (mulai ayat 221) berbicara segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga, seperti nikah, cerai, nafaqah, maskawin, hak-hak istri dan suami, menyusui, dsb.

Kisah Raja Jalut dan Talut
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: "Matilah kamu", kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (2:243)
Kisah ini menunjukan bahwa salah satu sarana untuk menjaga Aqidah dan ajaran Islam adalah jihad fisabilillahl. Orang-orang penakut tidak pantas untuk menjadi khalifah yang membawa risalah.

Ayat Kursi 255
Ayat kursi adalah ayat yang paling indah dan kumplit dalam menggambarkan tentang sifat-sifat Allah SWT.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (255)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(256)

Tiga Kisah untuk Memperkuat Ayat Kursi
Dalam ayat-ayat berikut terdapat 3 kisah yang menguatkan atau membuktikan sifat-siafat Allah yang ada pada ayat kursi.
1. Kisah Nabi Ibrahim dengan Raja Namrud (2:258)
2. Kisah Nabi Uzair (2:259)
3. Kisah Nabi Ibrahim dan Burung (2:260)

Systim Menurut Islam Tentag Ekonomi, Zakat, dan Perdagangan
Ayat-ayat berikutnya berbicara tentang masalah keuangan, infaq, ekonomi, riba, dsb. Dalam maslah Riba ayat-ayatnya sangat keras sekali: (2:275-279)
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Diletakannya ayat riba diantara ayat-ayat infaq untuk menunjukan bahwa ketika syai’at Islam mengharamkan sesuatu, maka diberikannya altrnatif. Ketika diakatan usaha dengan riba itu haram, maka altenatifnya adalah usah dagang atau memberikan infaq.

Jadi setelah ayat-ayat dalam surat Al-Baqarah menyinggung hampir semua aspek kehidupan: Aqidah, ibadah, Akhlak, keluarga, Ekonomi, Muamalah, Sosial, Hutang Piautang, dll maka surat itu ditutup dengan kata-kata
"Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".(285).
Tidak seperti sikap Bani Israil: “Samina wa ‘asoina” (Kami dengar tapu kami tidak (mau) ta’at;” (2:93)

Do’a
Lalu dikhiri dengan do’a
(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".. 2:286


Purpose and Topics of Surah Al-Baqarah
Surat Al-Baqarah was the first surat sent down to Madinah after Rasulullah Hijrah. Madinah was the first city where Rasulullah tought the ummah and establish Islamic Country. Surah Al-Baqarah is the longest surah in Qur’an with 286 ayat.

The Importance of Surat Al-Baqrah
• Nabi SAW said: “Don’t make your house like a grave, because a house in which surah Albaqarah is recited, then syaitan will not enter.”
• “Everything has a tip, and the tip of Al-Qur’an is Al-Baqarah, and whoever read it in his house then syaitan will not enter for 3 days.”
• “Read Al-Qur’an because it will be a helper (give syafa’at) to those who read it in the day of judgement. Read two flowers (Al-Baqarah and Al-Imarn) because the two will come as two flock of birds which become witness to those who read them.”
• “In the day of judgement, Al-Qur’an and its owner (i.e the reader) who practice it will be presented and Al-Baqarah and Al-Imran will know it”

Main Purpose of Surat Al-Baqarah
The main purpose of surah Al-Baqarah is about mankind as khalifah on earth. This means Allah has given the trust and task to mankind to manage the earth according to his guidance that He gives. The surah gives example of those who succeed and those who failed as khalifah.

The first part: about the preamble explaining 3 types of mankind:
a. Al-Mutaqeen (5 ayat)
b. Al-Kafireen (2 ayat)
c. Al-Munafiqeen (13 ayat)
Second part: about the trial of Adam as khalifah
Third part: about the failure of Bani Israil as khalifah
Fourth part: about the success of Ibrahim as khalifah.

Adam (AS) as Khalifah
And (remember) when your Lord said to the angels: "Verily, I am going to place (mankind) generations after generations on earth." They said: "Will You place therein those who will make mischief therein and shed blood, - while we glorify You with praises and thanks (Exalted be You above all that they associate with You as partners) and sanctify You." He (Allâh) said: "I know that which you do not know.". (2:30)
And He taught Adam all the names (of everything), then He showed them to the angels and said, "Tell Me the names of these if you are truthful." (2:31)
‘Al-Asmaa’ (names) also mean knowledge, science, technology, etc. This indicate that a khalifah can not carry out his duty without them. Islam not only teach the ritual worship but also how to manage the earth.

One Reason of The failure of the Khalifah was Sin
According to ayah 36 of surah Al-Baqarah:
Then the Shaitân (Satan) made them slip therefrom (the Paradise), and got them out from that in which they were. We said: "Get you down, all, with enmity between yourselves. On earth will be a dwelling place for you and an enjoyment for a time." (2:36)
We said: "Get down all of you from this place (the Paradise), then whenever there comes to you Guidance from Me, and whoever follows My Guidance, there shall be no fear on them, nor shall they grieve. (2:38)

Bani Israil as Khalifah
O Children of Israel! Remember My Favor which I bestowed upon you, and fulfil (your obligations to) My Covenant (with you) so that I fulfil (My Obligations to) your covenant (with Me), and fear none but Me.. (2:40)
This indicate that in order to succeed as khalifah we have to always remember the ni’mat (bounties) of Allah SWT.

Bounties of Allah to Bani Israil
And (remember) when We delivered you from Fir'aun's (Pharaoh) people, who were afflicting you with a horrible torment, killing your sons and sparing your women, and therein was a mighty trial from your Lord. (2:49)
And (remember) when We separated the sea for you and saved you and drowned Fir'aun's (Pharaoh) people while you were looking (at them, when the sea-water covered them)..(2:50)
And We shaded you with clouds and sent down on you Al-Manna and the quails, (saying): "Eat of the good lawful things We have provided for you," (but they rebelled). And they did not wrong Us but they wronged themselves.. (2:57)

Bani Israil was a Materialistic Nation
And (remember) when you said: "O Mûsâ (Moses)! We shall never believe in you until we see Allâh plainly." But you were seized with a thunder-bolt (lightning) while you were looking.. (2:55)
Then We raised you up after your death, so that you might be grateful. (2:56)
And they were covered with humiliation and misery, and they drew on themselves the Wrath of Allâh. That was because they used to disbelieve the Ayât (proofs, evidences, verses, lessons, signs, revelations, etc.) of Allâh and killed the Prophets wrongfully. That was because they disobeyed and used to transgress the bounds (in their disobedience to Allâh, i.e. commit crimes and sins). (2:61)

Why it’s called surat Al-Baqarah?
The story of ‘Al-baqarah’ or the “cow” shows the core / main mistakes of Bani Israil. It’s a warning for Muhammad’s (SAW) nation not to act like them. From ayah 67-73:
And (remember) when Mûsâ (Moses) said to his people: "Verily, Allâh commands you that you slaughter a cow." They said, "Do you make fun of us?" He said, "I take Allâh's Refuge from being among Al-Jâhilûn (the ignorant or the foolish)." (2:67)
They said, "Call upon your Lord for us that He may make plain to us what it is!" He said, "He says, 'Verily, it is a cow neither too old nor too young, but (it is) between the two conditions', so do what you are commanded.". (2:68)
They said, "Call upon your Lord for us to make plain to us its color." He said, "He says, 'It is a yellow cow, bright in its color, pleasing to the beholders.'" (2:69)
They said, "Call upon your Lord for us to make plain to us what it is. Verily to us all cows are alike, And surely, if Allâh wills, we will be guided." (2:70)
He (Mûsâ (Moses)) said, "He says, 'It is a cow neither trained to till the soil nor water the fields, sound, having no other color except bright yellow.'" They said, "Now you have brought the truth." So they slaughtered it though they were near to not doing it..(2:71)
And (remember) when you killed a man and fell into dispute among yourselves as to the crime. But Allâh brought forth that which you were hiding. (2:72)
So We said: "Strike him (the dead man) with a piece of it (the cow)." Thus Allâh brings the dead to life and shows you His Ayât (proofs, evidences, verses, lessons, signs, revelations, etc.) so that you may understand. (2:73)

The Main Mistakes of Bani Israil?
1. Excessive materialistic. They only believe on materialized things.
2. Like to debate useless things
3. Did not obey Allah and His messengers
4. Always looking for ‘hilah’ (reasons not to obey Allah SWT)

First ayat for the mu’min
O you who believe! Say not (to the Messenger (peace be upon him)) Râ'ina but say Unzurna (make us understand) and hear. And for the disbelievers there is a painful torment..(2:104)

Prohibition to just imitate
Allah warns the mu’min of the dangers of imitating what Bani Israil did. One of them is on the usage of term. For example, they like to say “Ra’ina” to nabi (S). This word has many meanings: “guide us” , or “Ru’iya-na” which means a shepherd, or Ra’unah, which means ‘don’t have good conduct’. Use word that ‘Unzurna’ instead.

The khilafah of Ibrahim (AS)
Nabi Ibrahim (AS) is an example of khalifah who succeed. Allah says:
And (remember) when the Lord of Ibrâhim (Abraham) (i.e., Allâh) tried him with (certain) Commands, which he fulfilled. He (Allâh) said (to him), "Verily, I am going to make you an Imâm (a leader) of mankind (to follow you)." (Ibrâhim (Abraham)) said, "And of my offspring (to make leaders)." (Allâh) said, "My Covenant (Prophethood) includes not Zâlimûn (polytheists and wrongdoers).". (2:124)
And (remember) when We made the House (the Ka'bah at Makkah) a place of resort for mankind and a place of safety. And take you (people) the Maqâm (place) of Ibrâhim (Abraham) (or the stone on which Ibrâhim (Abraham) stood while he was building the Ka'bah) as a place of prayer (for some of your prayers, e.g. two Rak'at after the Tawâf of the Ka'bah at Makkah), and We commanded Ibrâhim (Abraham) and Ismâ'il (Ishmael) that they should purify My House (the Ka'bah at Makkah) for those who are circumambulating it, or staying (I'tikâf), or bowing or prostrating themselves (there, in prayer). (2:125)

Second Part/Juz of Surat Al-Baqarah
The second juz in general contains orders and prohibitions.
Every orders and prohibitions are ended with the word ‘Taqwa’. This shows that to carry out the orders and to avoid the prohibited require taqwa.

First Order about Change of Direction (Qiblah) in Shalat
The fools among the people (pagans, hypocrites, and Jews) will say, "What has turned them (Muslims) from their Qiblah (prayer direction (towards Jerusalem)) to which they used to face in prayer." Say, (O Muhammad (peace be upon him)) "To Allâh belong both, east and the west. He guides whom He wills to the Straight Way."
Thus We have made you (true Muslims - real believers of Islâmic Monotheism, true followers of Prophet Muhammad (peace be upon him) and his Sunnah (legal ways)) a just (and the best) nation, that you be witnesses over mankind and the Messenger (Muhammad (peace be upon him)) be a witness over you. And We made the Qiblah (prayer direction towards Jerusalem) which you used to face, only to test those who followed the Messenger (Muhammad (peace be upon him)) from those who would turn on their heels (i.e. disobey the Messenger). Indeed it was great (heavy) except for those whom Allâh guided. And Allâh would never make your faith (prayers) to be lost (i.e. your prayers offered towards Jerusalem). Truly, Allâh is full of Kindness, the Most Merciful towards mankind.. (2:142-143)

The change of qiblat is actualy the first test for a khalifah and to have a distinct identity, not just imitating. Persons who like to imitate are usually weak and has no identity.

Verily! As-Safâ and Al-Marwah (two mountains in Makkah) are of the Symbols of Allâh. So it is not a sin on him who performs Hajj or 'Umrah (pilgrimage) of the House (the Ka'bah at Makkah) to perform the going (Tawâf) between them (As-Safâ and Al-Marwah). And whoever does good voluntarily, then verily, Allâh is All-Recogniser, All-Knower.. (2:158)
This ayat was revealed because the companions hesitated in doing sa’i between Sofa and Marwa, because of afraid following the kafir Quraish. This ayat explain that not all that come from others are bad. Eventhough sa’i had been a tradition of kafir Quraish, but its origin came from siti Hajar when she looked for water for her son Ismail.
It is not Al-Birr (piety, righteousness, and each and every act of obedience to Allâh, etc.) that you turn your faces towards east and (or) west (in prayers); but Al-Birr is (the quality of) the one who believes in Allâh, the Last Day, the Angels, the Book, the Prophets and gives his wealth, in spite of love for it, to the kinsfolk, to the orphans, and to Al-Masâkin (the poor), and to the wayfarer, and to those who ask, and to set slaves free, performs As-Salât (Iqâmat-as-Salât), and gives the Zakât, and who fulfill their covenant when they make it, and who are patient in extreme poverty and ailment (disease) and at the time of fighting (during the battles). Such are the people of the truth and they are Al-Muttaqûn (the pious - see V.2:2). (2:177)
This ayat is the summary of all islamic teachings: Aqidah, Shair’ah, Akhlaq. At the same time, it emphasize the importance of taking islam as a whole (syamil), not partially taking what’s liked.

Orders and Prohibitions
The verses that follow full of orders and prohibitions and main teachings on:
a. Civil and Criminal law
b. Law on inheritance
c. Shaum (fasting) and hajj

O you who believe! Al-Qisâs (the Law of Equality in punishment) is prescribed for you in case of murder: the free for the free, the slave for the slave, and the female for the female. But if the killer is forgiven by the brother (or the relatives, etc.) of the killed against blood-money, then adhering to it with fairness and payment of the blood-money, to the heir should be made in fairness. This is an alleviation and a mercy from your Lord. So after this whoever transgresses the limits (i.e. kills the killer after taking the blood-money), he shall have a painful torment.. (178)
And there is (a saving of) life for you in Al-Qisâs (the Law of Equality in punishment), O men of understanding, that you may become Al-Muttaqûn (the pious - see V.2:2).. (179)

Jihad / Qital
And fight in the Way of Allâh those who fight you, but transgress not the limits. Truly, Allâh likes not the transgressors. (This Verse is the first one that was revealed in connection with Jihâd, but it was supplemented by another ). (190)

Infaq
Because jihad fisabililllah is not possible without jihad with wealth, so the following ayat was revealed
And spend in the Cause of Allâh (i.e. Jihâd of all kinds) and do not throw yourselves into destruction (by not spending your wealth in the Cause of Allâh), and do good. Truly, Allâh loves Al-Muhsinûn (the good-doers). (195)

It’s followed with verses on hajj (196-202). Hajj is a test before going to jihad because hajj itself is a form of jihad: jihad of wealth, physical jihad, against syaitan and nafs.

Order to enter Islam as a whole
O you who believe! Enter perfectly in Islâm (by obeying all the rules and regulations of the Islâmic religion) and follow not the footsteps of Shaitân (Satan). Verily! He is to you a plain enemy... (2:208)
One reason of Bani Israil failure was taking the teaching of their prophets partially and rejecting other part. (2:86)

Family
Starting from ayat 221, Allah talks about family related matters like marriage, divorce, nafaqah, dowry, rights of husband and wife, breastfeed, etc.

Stories of Jalut dan Talut
Did you (O Muhammad (peace be upon him)) not think of those who went forth from their homes in thousands, fearing death? Allâh said to them, "Die". And then He restored them to life. Truly, Allâh is full of Bounty to mankind, but most men thank not. (2:243)
This story shows that one way to protect the aqidah and teachings of islam is jihad fisabilillah. Those who afraid is not worthy of being a khalifah who carry the risalah.

Ayat Kursi 255
Ayat kursi is the most beautiful and complete description of Allah SWT.
Allâh! Lâ ilâha illa Huwa (none has the right to be worshipped but He), the Ever Living, the One Who sustains and protects all that exists. Neither slumber, nor sleep overtake Him. To Him belongs whatever is in the heavens and whatever is on earth. Who is he that can intercede with Him except with His Permission? He knows what happens to them (His creatures) in this world, and what will happen to them in the Hereafter. And they will never compass anything of His Knowledge except that which He wills. His Kursî extends over the heavens and the earth, and He feels no fatigue in guarding and preserving them. And He is the Most High, the Most Great. (255)
There is no compulsion in religion. Verily, the Right Path has become distinct from the wrong path. Whoever disbelieves in Tâghût and believes in Allâh, then he has grasped the most trustworthy handhold that will never break. And Allâh is All-Hearer, All-Knower..(256)

3 Stories to strengthen Ayat Kursi
The next verses contain the stories that strengthen or prove the sifat / characteristics of Allah mentioned in ayat kursi.
1. Kisah Nabi Ibrahim dengan Raja Namrud (2:258)
2. Kisah Nabi Uzair (2:259)
3. Kisah Nabi Ibrahim dan Burung (2:260)

Economic, Zakat, and Trade systems in Islam
On riba, Allah talks very strictly: (2:275-279)
Those who eat Ribâ (usury) will not stand (on the Day of Resurrection) except like the standing of a person beaten by Shaitân (Satan) leading him to insanity. That is because they say: "Trading is only like Ribâ (usury)," whereas Allâh has permitted trading and forbidden Ribâ (usury). So whosoever receives an admonition from his Lord and stops eating Ribâ (usury) shall not be punished for the past; his case is for Allâh (to judge); but whoever returns (to Ribâ (usury)) such are the dwellers of the Fire - they will abide therein. (275)
Allâh will destroy Ribâ (usury) and will give increase for Sadaqât (deeds of charity, alms, etc.) And Allâh likes not the disbelievers, sinners.(276)
Truly those who believe, and do deeds of righteousness, and perform As-Salât (Iqâmat-as-Salât), and give Zakât, they will have their reward with their Lord. On them shall be no fear, nor shall they grieve. (277)
O you who believe! Be afraid of Allâh and give up what remains (due to you) from Ribâ (usury) (from now onward), if you are (really) believers. (278)
And if you do not do it, then take a notice of war from Allâh and His Messenger but if you repent, you shall have your capital sums. Deal not unjustly (by asking more than your capital sums), and you shall not be dealt with unjustly (by receiving less than your capital sums). (279)

The placement of the verses about riba along the verses of infaq shows that when islamic syariat forbid something, it also provides the alternative.
After mentioning all aspects of life: Aqidah, ibadah/worship, Akhlak, family, Economi, Muamalah, Social, etc. the surat is concluded with the words:
and they say, "We hear, and we obey. (We seek) Your Forgiveness, our Lord, and to You is the return (of all)." (285)
Unlike Bani Israil who said: “Samina wa ‘asoina” ("We have heard and disobeyed.";” (2:93)

Do’a
And then ended with the du’a
"Our Lord! Punish us not if we forget or fall into error, our Lord! Lay not on us a burden like that which You did lay on those before us (Jews and Christians); our Lord! Put not on us a burden greater than we have strength to bear. Pardon us and grant us Forgiveness. Have mercy on us. You are our Maulâ (Patron, Supporter and Protector, etc.) and give us victory over the disbelieving people." 2:286


Photobucket - Video and Image Hosting



 
   
 
Pengajian Assyifa December 19, 2001
Daisypath Ticker